Baduy Punya Cerita
Udara terasa
segar dan bersih. Mentari pagi menyemburkan cahaya menyinari perkampungan suku
Baduy Luar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi
Banten. Suara burung dan gemericik air yang mengalir di sungai “suku Baduy”.
Ada suasana damai
yang terasa saat menyusuri rumah-rumah panggung milik penduduk suku Baduy Luar
yang dibangun saling berhadapan itu.
Lumbung padi
suku Badui.
Mengunjungi
Baduy yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Jakarta bukan sekadar perjalanan
biasa, tetapi sekaligus momen untuk menyegarkan diri dari hiruk-pikuk dan
keruwetan di Ibu Kota.
Selain itu,
pengunjung juga dapat belajar tentang kearifan lokal. Meskipun adat istiadat
warga Baduy Luar tidak seketat masyarakat di Baduy Dalam, ciri umum kehidupan
mereka sama, yakni hidup berdampingan secara damai selaras dengan alam sekitar.
”Masyarakat
suku Baduy hidup dalam kesederhanaan, gotong royong, cinta damai, dan
anti-narkoba,” kata Dainah (55), Kepala Desa Kanekes.
Suku Baduy
merupakan salah satu suku asli Banten. Jumlah penduduknya sekitar 11.000 jiwa
lebih. Lokasi suku Baduy berada di kaki pegunungan Kendeng. Jika ingin menuju
ke Baduy Dalam harus berjalan kaki sekitar tiga hingga empat jam.
Di sepanjang
perjalanan menuju Baduy Dalam, panorama alam yang indah dan asri bisa dinikmati
para pengunjung. Wilayah suku Baduy terbagi dua, yakni Baduy Dalam dan Baduy
Luar. Suku Baduy Dalam merupakan penduduk yang masih menjaga adat istiadat
dengan ketat. Adapun Baduy Luar sudah berbaur dengan masyarakat sekitar.
Alam baduy
Hormati Adat Istiadat
Jika ingin menginap di Kampung Baduy, para pengunjung selain harus mempersiapkan fisik, juga harus menghormati dan mematuhi ketentuan adat yang berlaku di kawasan ulayat masyarakat Baduy.
Menurut
Dainah, tanah ulayat masyarakat Baduy seluas 5.000 meter persegi, sementara
kawasan hutan lindung yang harus mereka pelihara seluas 3.000 meter persegi.
Setiap pengunjung yang hendak menginap di rumah warga Baduy harus mematuhi sejumlah larangan, di antaranya larangan membawa tape atau radio, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.
Setiap pengunjung yang hendak menginap di rumah warga Baduy harus mematuhi sejumlah larangan, di antaranya larangan membawa tape atau radio, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.
Khusus untuk
warga asing tak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam yang warganya selalu
berpakaian hitam dengan ikat kepala berwarna putih. Tidak hanya itu, jika
berada di kawasan Baduy Dalam, pengunjung dilarang untuk merokok, memotret, dan
menggunakan sabun serta odol.
Bahkan, suku asli Baduy Dalam ke mana pun mereka pergi tidak boleh menggunakan alas kaki dan dilarang menggunakan kendaraan. Ke mana pun mereka pergi harus berjalan kaki. ”Kalau larangan dilanggar selalu ada akibatnya, misalnya badan terasa sakit. Kalau kita sakit dalam waktu lama akan ditanya oleh Puun (kepala adat). Nah, kalau sakitnya karena melanggar aturan adat bisa dikenai sanksi hingga dikeluarkan dari Baduy Dalam,” ujar Aldi (20), penduduk suku Baduy Dalam.
Bahkan, suku asli Baduy Dalam ke mana pun mereka pergi tidak boleh menggunakan alas kaki dan dilarang menggunakan kendaraan. Ke mana pun mereka pergi harus berjalan kaki. ”Kalau larangan dilanggar selalu ada akibatnya, misalnya badan terasa sakit. Kalau kita sakit dalam waktu lama akan ditanya oleh Puun (kepala adat). Nah, kalau sakitnya karena melanggar aturan adat bisa dikenai sanksi hingga dikeluarkan dari Baduy Dalam,” ujar Aldi (20), penduduk suku Baduy Dalam.
Warga Baduy
Dalam menetap di Kampung Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Orang asing hanya
diizinkan masuk hingga wilayah Baduy Luar yang warganya selalu berpakaian
hitam.
Sementara itu, pada bulan Kawalu (masa panen tiga bulan berturut-turut pada bulan Februari hingga April), Baduy Dalam ditutup untuk semua orang luar. Namun, pengunjung pada bulan Kawalu tetap bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam saat mereka keluar dari kampungnya.
Sementara itu, pada bulan Kawalu (masa panen tiga bulan berturut-turut pada bulan Februari hingga April), Baduy Dalam ditutup untuk semua orang luar. Namun, pengunjung pada bulan Kawalu tetap bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam saat mereka keluar dari kampungnya.
Adat Baduy sangat membatasi sentuhan dengan dunia modern, terutama pada listrik
dan peralatan elektronik. Karena itu, para pengunjung yang akan menginap harus
membawa senter untuk memudahkan saat ke kamar kecil pada malam hari.
Perkampungan Suku Baduy Selain itu, jaket juga bisa
membantu untuk menghangatkan badan di malam hari yang dingin di perkampungan
Baduy. Rasa dingin itu sangat menusuk tulang karena warga Baduy tidur di lantai
rumah panggung berupa palupuh yang terbuat dari bambu dan bukan di atas dipan.
Angin tidak hanya dirasakan dari embusan di atas,
tetapi juga dari bawah rumah panggung yang masuk dari sela dinding yang terbuat
dari bilik bambu.
Apabila datang saat musim hujan, pengunjung sebaiknya
menggunakan alas kaki yang cocok dipakai di tanah licin dan berlumpur. Sepatu
atau sandal gunung direkomendasikan karena solnya telah didesain mampu
”mencengkeram” ketika berpijak sehingga tidak mudah tergelincir, apalagi di
jalan menanjak.
Jangan lupa pula membawa jaket atau jas hujan dan
tudung tas yang kedap air untuk melindungi barang bawaan agar tidak basah.
Minyak anti-nyamuk silakan pula dibawa untuk menghalau serangga tersebut,
terutama ketika berjalan-jalan ke hutan atau ke ladang.
Apabila menginap di perkampungan Baduy Luar, kita masih bisa menggunakan sabun
atau sampo ketika mandi. Adapun di Baduy Dalam, kedua benda itu pantang
dipakai.
Selain itu, obat-obatan pribadi juga harus dibawa, terlebih karena di dalam
perkampungan Baduy tidak ada puskesmas dan apotek. Masyarakat Baduy selalu
menggunakan dedaunan untuk mengobati setiap penyakit yang mereka derita.
(Tjahja Gunawan Diredja)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar